GusLukman, selain Katib PBNU juga Ketua Gerakan Ayo Mondok RMI. Pesantren Tremas, Pacitan, Jawa Timur, memulangkan santri sejak tanggal 20 Maret 2020 atau 4 hari setelah pemerintah menerapkan pembatasan-pembatasan sosial di banyak. Mungkin ini pesantren yang paling cepat memulangkan santri, bahkan saat itu, kota Surabaya saja masih Menyambuthari santri, Pimpinan Pusat (PP) Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI NU) bersama gerakan nasional Ayo Mondok menggelar rapat koordinasi nasional (Rakornas), Sabtu (6/10). Sejak diluncurkan oleh PBNU pada tahun 2015 lalu, gerakan nasional Ayo Mondok mampu mendongkrak jumlah santri di berbagai pesantren. AyoMondok; Laporan Donasi; Category ï»żPENTINGNYA LEADERSHIP DAN ENTREPRENEURSHIP BAGI SANTRI DALAM MENOPANG KEMAJUAN BANGSA DI ERA GLOBALISASI. April 23, 2019; 1054 Views; 0 Comments; PENTINGNYA LEADERSHIP DAN. See More. Bangun Kemandirian, RMINU Buka Khozin Shop di Blora. January 16, 2019; 505 AYOSURABAYACOM-- Sertifikat halal Vaksin Merah Putih akan segera keluar.Hal tersebut ditegaskan oleh Kepala BPJPH Muhammad Aqil Irham. Menurutnya, penerbitan sertifikat halal adalah ujung dari proses Sertifikasi Halal. Dia menjelaskan berdasarkan UU 33 tahun 2014 dan PP Nomor 39 tahun 2021, sertifikat halal diterbitkan oleh BPJPH, setelah melalui sejumlah Ayo mondok menjadi starting point untuk RMI NU mengkampanyekan pesantren sebagai referensi pendidikan generasi muda. Pesantren memiliki khazanah pengetahuan dan nilai-nilai yang diwariskan dari para kiai, sudah jelas kontribusinya untuk Indonesia," ungkap Abu Choir, pada konsolidasi tim PBPK, Sabtu (2/01/2016) di Pesantren Maslakul Huda, Kajen AYOMONDOK DI BAITUL HIKMAH DEPOK. OPEN ORDER. Dawuh Abah. Nasehat Habib Puang Makka Cahaya dari Nusantara; Maulana Habib Luthfi bin Ali bin Yahya. Dapatkan segera! Buku tentang Maulana Habib Luthfi bin Ali bin Yahya. Gedung PBNU II, Jl. Taman Amir Hamzah No.5, RT.8/RW.4, Pegangsaan, Kec. Menteng, Kota Jakarta Pusat, . ï»żGAYUNGAN, - Rabithah Ma'ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama RMI NU merupakan lembaga milik Nahdlatul Ulama dengan basis utama pondok pesantren. Di Indonesia, jumlahnya mencapai lebih dari dan tersebar di sejumlah daerah. Plt Ketua Rabithah Ma'ahid Islamiyah RMI Nahdlatul Ulama Jawa Timur Jatim, KH Abdussalam Shohib menyatakan, RMI NU merupakan asosiasi pesantren NU yang berencana memberikan sertifikat kepada pondok-pondok pesantren di bawah naungan RMI. Dalam sertifikasi itu, berupa pesantren aman dan sehat. Maka dari itu, ia berupaya melakukan koordinasi dengan beragam pihak. Baik internal mau pun eksternal dari beragam pihak agar aksi pencabulan atau pemerkosaan di lingkungan pondok tak terulang lagi. Baca Juga GIIAS Surabaya 2021 Dihadiri Pengunjung "Kita akan koordinasi dengan pihak eksternal, aparat yang berwenang, LBH, KPAI, dan Kemenag. Kita juga lakukan koordinasi internal, komunikasi dan koordinasi dengan LBHNU dan LKKNU," kata Abdussalam, Senin 13/12/2021. Dengan adanya sertifikasi tersebut, dinilai dapat membuat pondok pesantren yang berafiliasi dengan NU tetap mendapatkan kepercayaan dari publik. Sehingga, pandangan negatif terhadap pondok pesantren atau beragam hal di dalamnya tiada. Ia berharap, hal serupa juga dilakukan oleh organisasi massa lainnya. "Pesantren di bawah RMI semuanya berkembang dan mendapat kepercayaan tinggi di mata masyarakat," ujarnya. Baca Juga Kesalahan Teknis, Hasil Undian Babak 16 Besar Liga Champions Dibatalkan dan Akan Diulang Pukul WIB Sebelumnya, pemerkosaan terhadap santriwati oleh HW terhadap 13 santriwati di Cibiru, Bandung, Jawa Barat memicu amarah khalayak. Tentunya, hal itu mengundang aneka respon dari khalayak. Tak hanya sekedar mencibir, warganet juga mengecam perbuatan tersebut. Kini, kasus itu tengah diproses lebih lanjut oleh pihak kepolisian. Jakarta - Gelar 'Gus Lora' yang disematkan kepada Hotman Paris menuai kontroversi. Sebelumnya Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Sirodj memang memberi nama 'Gus Lora' kepada Hotman Paris. Rupanya penamaan 'Gus Hotman' juga mengundang komentar dari Ketua Pengurus Besar Nahdatul Ulama PBNU, KH Abdul Manan Ghani. Bagi Abdul Manan, Gus yang disematkan kepada Hotman Paris tersebut adalah guyonan. Memang di kalangan orang NU sebutan Gus adalah hal yang biasa. "Biasa kiai NU itu kalau berbicara suka banyak canda-candanya, guyonan. Ketika siapa yang datang panggil aja dengan nama Gus," kata Abdul Manan di Kantor PBNU, Kramat, Jakarta Pusat, Selasa 10/9/2019. "Bukan sesungguhnya Gus anak kiai. Kan panggilan kehormatan, panggilan baik toh. Siapa saja bisa," tambahnya. Lanjut Abdul Manan Ghani, penyematan nama Gus juga identik orang berdarah Jawa Timur. Sementara itu, Lora sendiri adalah sebutan khas orang berdarah Madura. "Lora itu dari Madura, kalau Cirebon biasanya dipanggil Kang, jangan salah, orang dipanggil Gus biasa. Gus itu kan tradisi. Saya sering dipanggil Kang oleh orang lain," kata Abdul Manan disinggung penyematan nama Gus apakah cocok untuk Hotman, Abdul Manan menyebut Hotman dipanggil Bang yang dianggapnya sesuai nama kehormatan orang berdarah Batak. "Nggak pantas juga kalau orang Batak dipanggil Gus, pantas nggak? Pantasnya 'Bang' lah. Beliau kan marganya Hutapea, kalau Batak dipanggil Kang cocok nggak? Nggak, bukan kulturnya intinya panggilan," pungkasnya. Simak Video "Razman Merasa Dikriminalisasi di Kasus Lawan Hotman Paris" [GambasVideo 20detik] kmb/mau Pondok pesantren pada awalnya di-setting sebagai lembaga pendidikan non-formal. Surau, Masjid dan pemondokan santri menjadi ruang aktifitas sentral para santri belajar ilmu. Ilmu yang dipelajari secara umum berkutat pada persoalan disiplin ilmu agama baca; Islam, semisal fiqh, tasawwuf, nahwu, shorof, tauhid, tajwid dan semacamnya. Teks-teks yang jadi rujukan juga seputar kitab kuning klasik, sebuah karya cendikiawan Islam Ulama yang rata-rata ditulis pada abad pertengahan. Hal semacam itu membuat beberapa kalangan menjuluki kaum pesantren sebagai kaum berjalannya waktu, tuntutan zaman kian kompleks. Pesatnya keilmuan yang semakin spesifik serta perkembangan teknologi terus menuntut pesantren tetap bisa menjadi lembaga pendidikan yang selalu survive. Alhasil, pesantren juga membuka pendidikan umum mulai dari SD-MI, SLTP-MTs, SMA-SMK-MA-MAK, bahkan Perguruan Tinggi. Sungguh ini capaian yang luar biasa. Selain menjadi lembaga pendidikan agama, pesantren juga membuka ruang untuk siapa saja yang ingin memperdalami ilmu itu ternyata tidak membuat pesantren aman dalam memuluskan ajarannya. Munculnya pesantren-pesantren baru yang sebenarnya berada dalam naungan aliran Islam transnasional menjadi tantangan pesantren yang sudah lama ada. Pesantren baru muncul dengan mengedapankan ilmu umum semata, pengetahuan bahasa Inggris dan bahasa Arab menjadi tawaran untuk menarik animo para orang tua agar memondokkan anaknya di "Ayo Mondok" yang dipelopori oleh Rabithah Ma'ahid Islamiyah RMI PBNU menjadi signal bahwa lembaga pendidikan pesantren bukan lembaga alternatif. Akan tetapi, pesantren dengan segala bentuknya merupakan lembaga unggulan. Memang, jika dilihat dari redaksi bahasa, gerakan tersebut seakan-akan hanya ajakan untuk orang tua agar memondokkan anaknya di pesantren. Ajakan tersebut diperuntukkan agar orang tua tidak memondokkan anaknya di pesantren yang salah. Karena, meskipun menempuh pendidikan di pesantren bukan jaminan mereka sudah berada di tempat yang benar. Jika pesantren yang ditempati berideologi Islam garis keras, maka sejatinya mereka tidak nyantri. Akan tetapi, mereka dididik untuk menjadi para "teroris" dengan alasan "jihad". Setelah keluar sebagai alumni mereka malah mencoreng nama Islam itu sendiri. Untuk itulah, gerakan "Ayo Mondok" menjadi sebuah kampanye penting agar orang tua tidak salah menitipkan anaknya untuk belajar di MondokBanyak hal kenapa orang tua penting memondokkan anaknya di pesantren yang benar. Menurut pengalaman penulis sendiri, ada beberapa hal kenapa penting menempuh pendidikan di pesantren, tentunya pesantren yang berada di bawah asuhan kiai-kiai Nahdlatul Ulama NU. Di antaranya pertama, pesantren NU memiliki sanad keilmuan yang jelas. Segala yang dipelajari di pesantren NU bisa dipertanggungjawabkan. Jika kita runtut, ilmu yang dikonsumsi alurnya jelas sampai kepada Nabi Muhammad SAW. Oleh karenanya, kita tak perlu khawatir atas kebenaran ilmu yang dipelajari di pesantren NU. Karena itu sudah sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad SAW yang besok bertanggung jawab dihadapan Allah Yang Maha pesantren mengajarkan kita untuk tidak berpikir oposisi-binner. Sebuah gaya berpikir yang selalu mempertentangkan setiap perbedaan. Tak heran, jika gerakan feminisme menjadi kekuatan matriarki yang menindas kaum lelaki, semisal. Atau sosialisme menentang otoriterianisme, lalu menjadi otoriterianisme dengan bentuk baru. Nah, di pesantren kita diajarkan bahwa perbedaan itu adalah sunnatullah. Perbedaan tidak perlu dipertentangkan, akan tetapi disikapi secara arif agar bisa berjalan sejarah yang bisa kita petik adalah saat terjadi perang sesama sahabat Rasulullah. Ketika beberapa kelompok memberi dukungan kepada salah satu sahabat, bahkan ada yang memilih menyalahkan keduanya. Ulama Ahlussunnah memilih tidak berkomentar. Diamnya Ahlussunnah bukan tanpa alasan, sikap diam tanpa komentar merupakan pernyataan tersirat bahwa keduanya sama-sama mempunyai dasar alasan atas perang yang mereka kobarkan. Keduanya sama-sama sahabat Rasulullah dan perbedaan pandangan itu hal yang biasa terjadi, tak terkecuali sahabat Nabi kita dikenalkan tentang konsep barokah. Dalam kehidupan pesantren, barokah menjadi hal penting yang dijadikan pegangan santri. Sering kali kita mendengar, setinggi apapun ilmu yang didapatkan jika tidak mendapatkan barokah Kiainya, maka ilmu yang didapat akan sia-sia. Dalam pandangan pesantren tabarrukan atau biasa disebut barokah mempunyai makna penambahan kebagusan dari Allah, ziyadatul khair. Artinya, setiap waktu semakin bertambah baik. Barokah merupakan sebuah kekuatan rasa yang dimiliki oleh Kiai dan dipercaya mampu melegitimasi ilmu yang diperoleh santri, manfaat atau tidak. Barokah tidak semata-mata bisa hadir dari seorang Kiai. Artinya, untuk mendapatkan titel bahwa seorang Kiai memiliki kekuatan barokah biasanya terletak pada sejauhmana Kiai tersebut memilki sendiri merupakan sebuah pengetahuan yang telah mengkristal pada diri seorang Kiai. Tentunya, ilmu yang pernah dipelajarinya telah menyatu dengan dirinya. Nah, Kiai seperti ini akan terlihat begitu karismatik di depan santri-santrinya dan masyarakat pada umumnya. Ternyata, hal semacam ini tidak hanya diakui oleh kalangan pesantren. Seorang tokoh sosiologi, Max Weber juga mengakui akan kebenaran ini. Dalam menjelaskan rasionalisasi, Weber mengakui bahwa ilmu-ilmu sosial harus berkaitan dengan fenomena spiritual atau ideal. Alasannya, sebagai ciri-ciri khas dari manusia yang tidak berada dalam jangkauan bidang ilmu-ilmu alam. Nah, yang semacam ini dalam pesantren biasa disebut dengan barokah dan karomah. Sesuatu yang selama ini kita anggap mistis, ternyata hanya persoalan rasio akal belum mampu menjangkaunya. Sebenarnya ini adalah hal yang rasional, suatu saat bisa dari pesantren kita akan diajarkan bagaimana bersosial. Tanpa disadari, dalam kehidupan santri menyimpan segudang pelajaran hidup. Hal sederhana, semisal bagaimana santri makan bersama dengan menggunakan talam. Dari situ kita bisa lihat, bahwa kebersamaan dalam pesantren itu sangat diutamakan. Tanpa melihat dari mana asalnya, miskin, kaya bahkan keturunannya. Pesantren tak pernah mengenal kasta, semua diperlakukan sama, selain persoalan di atas, hal paling penting yang bisa didapat dari pesantren adalah "Akhlak". Akhlak yang dimaksud di sini bukan sekedar persoalan etika semata. Karena etika lebih kepada persoalan pola sikap dan pola ucap. Semisal, seorang koruptor yang sosialnya bagus tidak bisa dikatakan berakhlak. Karena apa yang ia lakukan tidak sesuai dengan kebenaran tetapi, akhlak jauh melampaui itu. Seseorang yang berakhlak, baik tindakan, perkataan, pikiran maupun perasaannya akan berjalan secara beriringan. Keempatnya tidak mungkin bertentangan. Contoh yang bisa kita ambil, ketika Nabi Muhammad SAW mengutuk seseorang yang munafik. Seperti kita mafhum, munafik adalah seorang yang ucapan dan tindakan, pikiran serta hatinya tidak sesuai. Dari contoh itu bisa kita petik, bahwa akhlak meliputi persoalan pola sikap, pola ucap, pola pikir dan pola rasa hati. Bagaimanapun juga, Nabi Muhammad SAW diutus ke dunia, tak lain dan tak bukan untuk menyempurnakan akhlak manusia, Innama bu'itstu liutammima makarimal hanya sekelumit pengalaman dari penulis yang pernah mengenyam pendidikan di pesantren. Tentu masih banyak hal lain yang bisa dijadikan alasan kenapa mondok nyantri itu penting. Ada segudang pelajaran dan pengalaman yang hanya bisa kita dapatkan dari pondok pesantren. Untuk itu, AyoMondok. Sumber NU Online Jakarta, NU OnlinePemukulan bedug oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Senin 1/6 di aula kantor PBNU Jakarta, menandai diluncurkannya Gerakan Nasional “Ayo Mondok” yang dimotori oleh Rabithah Ma’ahid Islamiyah RMI.Koordinator Gerakan Nasional “Ayo Mondok, Pesantrenku Keren” KH Lukman Harits Dimyati mengatakan, gerakan ini adalah bentuk kepedulian kalangan pesantren yang tergabung dalam RMI terhadap fenomena dunia pendidikan yang gagal menanamkan pendidikan karakter kepada pelajar dan secara moral, hanya pesantren yang bisa menyelamatkan generasi muda dari kencenderungan-kecenderungan pendidikan yang merusak. Perilaku yang baik hanya bisa dilakukan dengan pembiasaan secara terus menerus untuk bersikap baik.“Pembiasaan selama 24 jam dengan pengawasan, pembinaan dan pendampingan terus menerus adalah bentuk pendidikan karakter yang sudah lama dilakukan di pesantren, jauh sebelum isu pendidikan karakter muncul,” Sad Aqil Siroj mengatakan, gerakan Ayo Mondok ini merupakan “action” dari gerakan “Kembali ke Pesantren” yang dicanangkannya sejak Muktamar NU di Makassar 2010 lalu.“Omong kosong kalau kita ngomong kembali ke khittah kalau tidak kembali ke pesantren. Kembali ke pesantren bisa dalam artian fisik yakni mondok, atau dalam pengertian kembali kepada nilai, akhlaq dan jati diri pesantren,” dalam acara peluncuran Gerakan Nasional “Ayo Mondok” Ketua PP RMI Amin Haedari, Sekjen Miftah Fakih dan para pengurus PP RMI, Ketua RMI Jawa Tengah KH Abdul Ghaffar Rozien dan Ketua RMI Jawa Timur KH Reza Ahmad Zahid, serta para pengurus lembaga dan badan otonom di lingkungan PBNU. A. Khoirul Anam Jakarta, NU OnlineKetua Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama RMINU atau Asosiasi Pesantren Nahdlatul Ulama KH Abdul Ghaffar Rozin mengatakan bahwa RMI akan menyelenggarakan Silaturrahmi Nasional Silatnas Gerakan Ayo Mondok pada 13-15 Mei di Gedung Candra Wilwatikta, Pasuruan.“Silatnas akan mulai diselenggarakan mulai hari Jum’at tanggal 13 Mei sampai tanggal 15 Mei hari Ahad,” jelas Gus Rozin kepada NU Online di Jakarta, Selasa, 10/5.Gus Rozin menerangkan bahwa pada silatnas kali ini bukan hanya ajang untuk mempromosikan gerakan Ayo Mondok saja, tapi juga akan membahas strategi-strategi gerakan Ayo Mondok.“Bagaimana kemudian gerakan Ayo Mondok selama sepuluh tahun ke depan, itu didisain sedemikian rupa sehingga kemudian menjadi sebuah gerakan yang taktis dan sistematis,” jelas pengasuh pesantren Maslakul Huda Kajen Pati ini, lanjut Guz Rozin, akan dihadiri oleh empat ratus peserta yang terdiri dari para pengasuh pesantren, anak-anak Kiai, dan Lurah-lurah pondok.“Dan yang menjadi peserta juga pihak lain yang berkaitan dengan pesantren seperti PBNU dan lembaga-lembaga lain yang memiliki kaitan erat dengan pesantren,” konsep acara, ia menjelaskan bahwa para peserta silatnas nanti akan dibagi ke dalam enam kelompok grup diskusi.“Ini tidak ada parade seminar, mungkin ada semacam keynote speaker yang tugasnya membuat insight pesantren,” jelas laki-laki yang juga Direktur Institut Pesantren Mathali’ul Falah tersebut.“Ada enam focus group discussion yang temanya spesifik mengenai pengembangan pesantren. Dari enam itu, lima khusus untuk penguatan internal pesantren dan satu untuk eksternalnya,” silatnas ini akan dihadiri oleh Rais Aam Nahdlatul Ulama KH Ma’ruf Amin, Ketua Umum Nahdlatul Ulama KH Said Aqil Siroj, dan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin. Muchlishon Rochmat/Fathoni Oleh Abdul Rahman WahidPondok pesantren pada awalnya di-setting sebagai lembaga pendidikan non-formal. Surau, Masjid dan pemondokan santri menjadi ruang aktifitas sentral para santri belajar ilmu. Ilmu yang dipelajari secara umum berkutat pada persoalan disiplin ilmu agama baca; Islam, semisal fiqh, tasawwuf, nahwu, shorof, tauhid, tajwid dan semacamnya. Teks-teks yang jadi rujukan juga seputar kitab kuning klasik, sebuah karya cendikiawan Islam Ulama yang rata-rata ditulis pada abad pertengahan. Hal semacam itu membuat beberapa kalangan menjuluki kaum pesantren sebagai kaum berjalannya waktu, tuntutan zaman kian kompleks. Pesatnya keilmuan yang semakin spesifik serta perkembangan teknologi terus menuntut pesantren tetap bisa menjadi lembaga pendidikan yang selalu survive. Alhasil, pesantren juga membuka pendidikan umum mulai dari SD-MI, SLTP-MTs, SMA-SMK-MA-MAK, bahkan Perguruan Tinggi. Sungguh ini capaian yang luar biasa. Selain menjadi lembaga pendidikan agama, pesantren juga membuka ruang untuk siapa saja yang ingin memperdalami ilmu itu ternyata tidak membuat pesantren aman dalam memuluskan ajarannya. Munculnya pesantren-pesantren baru yang sebenarnya berada dalam naungan aliran Islam transnasional menjadi tantangan pesantren yang sudah lama ada. Pesantren baru muncul dengan mengedapankan ilmu umum semata, pengetahuan bahasa Inggris dan bahasa Arab menjadi tawaran untuk menarik animo para orang tua agar memondokkan anaknya di pesantrennya. Gerakan "Ayo Mondok" yang dipelopori oleh Rabithah Ma'ahid Islamiyah RMI PBNU menjadi signal bahwa lembaga pendidikan pesantren bukan lembaga alternatif. Akan tetapi, pesantren dengan segala bentuknya merupakan lembaga unggulan. Memang, jika dilihat dari redaksi bahasa, gerakan tersebut seakan-akan hanya ajakan untuk orang tua agar memondokkan anaknya di pesantren. Ajakan tersebut diperuntukkan agar orang tua tidak memondokkan anaknya di pesantren yang salah. Karena, meskipun menempuh pendidikan di pesantren bukan jaminan mereka sudah berada di tempat yang benar. Jika pesantren yang ditempati berideologi Islam garis keras, maka sejatinya mereka tidak nyantri. Akan tetapi, mereka dididik untuk menjadi para "teroris" dengan alasan "jihad". Setelah keluar sebagai alumni mereka malah mencoreng nama Islam itu sendiri. Untuk itulah, gerakan "Ayo Mondok" menjadi sebuah kampanye penting agar orang tua tidak salah menitipkan anaknya untuk belajar di pesantren. Pentingnya MondokBanyak hal kenapa orang tua penting memondokkan anaknya di pesantren yang benar. Menurut pengalaman penulis sendiri, ada beberapa hal kenapa penting menempuh pendidikan di pesantren, tentunya pesantren yang berada di bawah asuhan kiai-kiai Nahdlatul Ulama NU. Di antaranya pertama, pesantren NU memiliki sanad keilmuan yang jelas. Segala yang dipelajari di pesantren NU bisa dipertanggungjawabkan. Jika kita runtut, ilmu yang dikonsumsi alurnya jelas sampai kepada Nabi Muhammad SAW. Oleh karenanya, kita tak perlu khawatir atas kebenaran ilmu yang dipelajari di pesantren NU. Karena itu sudah sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad SAW yang besok bertanggung jawab dihadapan Allah Yang Maha pesantren mengajarkan kita untuk tidak berpikir oposisi-binner. Sebuah gaya berpikir yang selalu mempertentangkan setiap perbedaan. Tak heran, jika gerakan feminisme menjadi kekuatan matriarki yang menindas kaum lelaki, semisal. Atau sosialisme menentang otoriterianisme, lalu menjadi otoriterianisme dengan bentuk baru. Nah, di pesantren kita diajarkan bahwa perbedaan itu adalah sunnatullah. Perbedaan tidak perlu dipertentangkan, akan tetapi disikapi secara arif agar bisa berjalan sejarah yang bisa kita petik adalah saat terjadi perang sesama sahabat Rasulullah. Ketika beberapa kelompok memberi dukungan kepada salah satu sahabat, bahkan ada yang memilih menyalahkan keduanya. Ulama Ahlussunnah memilih tidak berkomentar. Diamnya Ahlussunnah bukan tanpa alasan, sikap diam tanpa komentar merupakan pernyataan tersirat bahwa keduanya sama-sama mempunyai dasar alasan atas perang yang mereka kobarkan. Keduanya sama-sama sahabat Rasulullah dan perbedaan pandangan itu hal yang biasa terjadi, tak terkecuali sahabat Nabi kita dikenalkan tentang konsep barokah. Dalam kehidupan pesantren, barokah menjadi hal penting yang dijadikan pegangan santri. Sering kali kita mendengar, setinggi apapun ilmu yang didapatkan jika tidak mendapatkan barokah Kiainya, maka ilmu yang didapat akan sia-sia. Dalam pandangan pesantren tabarrukan atau biasa disebut barokah mempunyai makna penambahan kebagusan dari Allah, ziyadatul khair. Artinya, setiap waktu semakin bertambah baik. Barokah merupakan sebuah kekuatan rasa yang dimiliki oleh Kiai dan dipercaya mampu melegitimasi ilmu yang diperoleh santri, manfaat atau tidak. Barokah tidak semata-mata bisa hadir dari seorang Kiai. Artinya, untuk mendapatkan titel bahwa seorang Kiai memiliki kekuatan barokah biasanya terletak pada sejauhmana Kiai tersebut memilki sendiri merupakan sebuah pengetahuan yang telah mengkristal pada diri seorang Kiai. Tentunya, ilmu yang pernah dipelajarinya telah menyatu dengan dirinya. Nah, Kiai seperti ini akan terlihat begitu karismatik di depan santri-santrinya dan masyarakat pada umumnya. Ternyata, hal semacam ini tidak hanya diakui oleh kalangan pesantren. Seorang tokoh sosiologi, Max Weber juga mengakui akan kebenaran ini. Dalam menjelaskan rasionalisasi, Weber mengakui bahwa ilmu-ilmu sosial harus berkaitan dengan fenomena spiritual atau ideal. Alasannya, sebagai ciri-ciri khas dari manusia yang tidak berada dalam jangkauan bidang ilmu-ilmu alam. Nah, yang semacam ini dalam pesantren biasa disebut dengan barokah dan karomah. Sesuatu yang selama ini kita anggap mistis, ternyata hanya persoalan rasio akal belum mampu menjangkaunya. Sebenarnya ini adalah hal yang rasional, suatu saat bisa dari pesantren kita akan diajarkan bagaimana bersosial. Tanpa disadari, dalam kehidupan santri menyimpan segudang pelajaran hidup. Hal sederhana, semisal bagaimana santri makan bersama dengan menggunakan talam. Dari situ kita bisa lihat, bahwa kebersamaan dalam pesantren itu sangat diutamakan. Tanpa melihat dari mana asalnya, miskin, kaya bahkan keturunannya. Pesantren tak pernah mengenal kasta, semua diperlakukan sama, selain persoalan di atas, hal paling penting yang bisa didapat dari pesantren adalah "Akhlak". Akhlak yang dimaksud di sini bukan sekedar persoalan etika semata. Karena etika lebih kepada persoalan pola sikap dan pola ucap. Semisal, seorang koruptor yang sosialnya bagus tidak bisa dikatakan berakhlak. Karena apa yang ia lakukan tidak sesuai dengan kebenaran tetapi, akhlak jauh melampaui itu. Seseorang yang berakhlak, baik tindakan, perkataan, pikiran maupun perasaannya akan berjalan secara beriringan. Keempatnya tidak mungkin bertentangan. Contoh yang bisa kita ambil, ketika Nabi Muhammad SAW mengutuk seseorang yang munafik. Seperti kita mafhum, munafik adalah seorang yang ucapan dan tindakan, pikiran serta hatinya tidak sesuai. Dari contoh itu bisa kita petik, bahwa akhlak meliputi persoalan pola sikap, pola ucap, pola pikir dan pola rasa hati. Bagaimanapun juga, Nabi Muhammad SAW diutus ke dunia, tak lain dan tak bukan untuk menyempurnakan akhlak manusia, Innama bu'itstu liutammima makarimal hanya sekelumit pengalaman dari penulis yang pernah mengenyam pendidikan di pesantren. Tentu masih banyak hal lain yang bisa dijadikan alasan kenapa mondok nyantri itu penting. Ada segudang pelajaran dan pengalaman yang hanya bisa kita dapatkan dari pondok pesantren. Untuk itu, Ayo Mondok.

ayo mondok rmi pbnu